Materai Rp 3.000

Materai Rp 3.000 & Rp 6.000 Masih Bisa Digunakan Tahun Depan

 

Pemerintah sah menaikan biaya bea materai jadi Rp 10 ribu mulai 1 Januari 2021. Tetapi, materai Rp 3.000 serta Rp 6.000 masih bisa dipakai di tahun depan.

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Suryo Utomo menjelaskan akan ada waktu peralihan pemakaian materai di tahun depan. Hal itu dilaksanakan buat habiskan tersisa materai Rp 3 ribu serta Rp 6 ribu.

“Sebab namanya materai itu terkadang telah dibeli tetapi terkadang pakainya kapan belum tahu. Saat membuka dompet, rupanya ada materainya yang belum dipakai,” kata Suryo Utomo dalam pertemuan virtual, Rabu (30/9).

Suryo menerangkan, waktu peralihan dilaksanakan semasa setahun penuh 2021. Warga masih bisa memakai materai lama dengan jumlah minimum Rp 9 ribu memakai materai Rp 3 ribu serta Rp 6 ribu pada satu dokumen. Disamping itu, dapat memakai dua buah materai Rp 6 ribu. “Ini jika kita tidak punyai materai Rp 3 ribu,” katanya.

Di lain sisi, Suryo menyebutkan sedang mempersiapkan materai elektronik. Hal itu ikut ditata dalam UU Bea Materai yang baru. Persiapan itu yaitu baik infrastruktur digital atau proses materai digital. Menurutnya, kesibukan itu memerlukan waktu sampai tiga bulan ke depan.

Direktur Tehnologi Info serta Komunikasi Direktoreat Jenderal Pajak Kemenkeu Iwan Djuniardi menjelaskan langkah pembayaran materai untuk dokumen digital akan dilaksanakan seperti bayar pulsa. “Jadi idenya ialah ada kode generator yang akan dibikin oleh satu skema,” kata Iwan dalam peluang yang serupa.

Selanjutnya, kode generator ini kelak dialirkan lewat skema aliran alias e-channeling. Di skema itu, nanti akan ada account e-wallet yang berisi keseluruhan nilai materai yang dibayar.

Sekarang ini, ada empat e-channeling yang sedang ditingkatkan. Pertama, pembayaran materai digital memakai semua aliran elektronik yang berisi dokumen elektronik.

Ke-2, pemateraian dokumen fisik tapi ditera oleh mesin yang tersambung dengan e-wallet. Hingga, nanti dokumen itu dimasukkan pada dalam selanjutnya langsung ditera dengan cara elektronik. Ke-3, ada skema unggah. “Unggah ke satu portal spesifik selanjutnya diprint lagi telah ada materai elektronik,” katanya.

Ke-4, yaitu seperti materai tempel yang diciptakan berdasar e-wallet itu di merchant dengan computer atau mesin spesifik serta kertas spesifik. Menurut Iwan, ini semakin lebih efesien jika mengingikan materai tempel.

Mengenai aplikasinya akan dilaksanakan sesuai dengan persiapan skema yang peluang akan dilaksanakan dengan cara setahap. Tetapi, dia mengharap skema materai digital akan siap di pasar di saat berfungsinya bea materai Rp 10 ribu.

Pemerhati Pajak Center for Indonesia Taxation Analysis Fajry Besar memandang besaran materai sudah sepantasnya naik karena telah kelamaan tidak dilaksanakan rekonsilasi biaya bea materai. Tetapi, ia memprediksi peningkatan biaya bea materai tidak akan relevan mendongkrang akseptasi negara.

“Sasaran pemerintah untuk biaya baru ini saja cuman penambahan Rp 5 triliun. Jauh dibanding defisit APBN,” kata Fajry ke Katadata.co.id, Rabu (30/9).

Disamping itu, Fajry menghargai gagasan implikasi materai digital. Kebijaksanaan itu adalah input dari beberapa aktor industri ekonomi digital agar bisa difasilitasi sebab sejauh ini mereka memakai dokumen digital. Dengan begitu, materai elektronik akan efisien mempermudah beberapa aktor industri itu.

error: Content is protected !!