Tren Suram Bursa Saham

Tren Suram Bursa Saham Bulan September dalam 10 Tahun

 

September jadi bulan yang muram buat pasar modal Indonesia. Rerata performa Indeks Harga Saham Kombinasi (IHSG) negatif di bulan ini. Semasa sepuluh tahun paling akhir, cuman empat tahun IHSG alami gerak positif di bulan September. Enam tahun yang lain termasuk juga tahun ini pengurangannya paling tinggi dalam sembilan tahun paling akhir.

Menurut Direktur Perdagangan serta Penataan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo, situasi ini bukan hanya berlangsung di pasar modal Indonesia. “Memang demikian trend di dunia. Namanya “summer effect” tuturnya sebab beberapa fund manajer berlibur musim panas,” katanya ke Katadata.co.id, Rabu (30/9).

Tahun ini, keadaannya perekonomian sedang tersuruk karena epidemi. Informasi-pengumuman berkaitan jumlah masalah Covid-19 yang tetap bertambah meningkatkan sentimen negatif di pasar. Epidemi panjang ini juga membuat angka perkembangan ekonomi tahun ini turun. Banyak perusahaan yang kesusahan jalankan bisnisnya ditengah-tengah situasi ini. Karena itu, September tahun ini jadi yang terjelek.

Direktur Karunia Mega Investama Hans Kwee menjelaskan umumnya IHSG di September memang turun. Bulan ini adalah periode jelek pasar modal tiap tahunnya. Pada periode Mei-Juli, umumnya korporasi bagikan keuntungan tahun awalnya untuk dividen ke pemegang saham. Periode ini jadi sentimen positif yang dapat mengusung IHSG.

Bulan selanjutnya, Agustus, perusahaan yang tertera di bursa telah umumnya telah usai sampaikan neraca keuangan semester I. Sesaat di September, pasar tidak banyak stimulan hingga seringkali terkoreksi.

“(September) kesempatan ini kita hadapi permasalahan besar epidemi Covid-19 bergerak naik ke atas di Indonesia serta dunia, semua sama masalahnya. Pasar menunggu pemilu AS. Lantas, sampai sekarang ini paket rangsangan AS belum terwujud, hingga ekonomi AS melamban yang memengaruhi ekonomi dunia,” kata Hans ke Katadata.co.id, Rabu (30/9).

Dari dalam negeri, perekonomian nasional diperkirakan negatif. Umumnya, di pasar saham akan memberi respon terlebih dulu, sebelum informasi perkembangan ekonomi. Masih di negeri, kebijaksanaan Limitasi Sosial Bertaraf Besar (PSBB) berefek besar pada usaha di ibu kota. Pasar jg belum dapat meramalkan kapan kebijaksanaan ini akan usai.

Lain lagi dengan analisis Head of Research Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi. Ia menjelaskan umumnya beberapa investor lakukan ulasan serta rebalancing portofolio investasinya mendekati akhir tahun. September adalah akhir dari kuartal 3, bila ada portofolio yang jelek atau kurang baik, bisa diperbarui di kuartal 4. Tiga bulan akhir tahun jadi peluang paling akhir buat investor untuk lakukan pembaruan.

“Karena itu di September ini disaksikan dari trendingnya 10 tahun ini minus, itu merah sendiri dibandingkan bulan-bulan yang lain. Dengan cara skemaatisnya, manager investasi tetap rebalancing portofolionya,” katanya ke Katadata.co.id. September jadi penting, sebab beberapa investor harus berbenah untuk dapat mencatat performa portofolionya lebih bagus pada tahun itu.

Tahun ini, pengurangan IHSG September telah lebih dari 7%. Ini jadi pengurangan terbesar di bulan yang serupa dalam sepuluh tahun paling akhir. Kritis kesehatan memberikan efek yang lumayan besar pada perekonomian. Efeknya dapat merambat ke krisis, yang nampak dari perkembangan ekonomi yang minus pada kuartal II serta peluang bersambung pada kuartal III. Ini tentunya berefek pada usaha.

Pada keadaan ini, investor condong pilih menggenggam uang dengan melepas portofolio sahamnya. Mereka akan mempersiapkan dana cadangan untuk lakukan beli kembali lagi (buyback) saham-sahamnya bila situasi ekonomi mulai sembuh. Saat ekonomi sembuh, harga saham akan kembali lagi naik (rebound). Momen yang dinanti oleh investor sekarang ini.

Analis Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial menjelaskan dengan cara historis September memang cukup kurang berteman buat pasar modal. Semua manager investasi (fund manajer) telah datang dari berlibur musim panas, serta mulai lakukan koalisi portofolio. Ditambah dengan cara bertepatan sentimen positif semasa September hampir dapat disebut tidak ada.

Ditambah lagi pada September tahun ini, yang pengurangannya lumayan tinggi karena epidemi. Pasar belum dapat mempertimbangkan unsur akselerasi perkembangan masalah positif Covid-19, waktu ekonomi kembali lagi dibuka. “Dari Maret sampai Agustus, IHSG serta termasuk juga bursa global alami peningkatan gain relevan, hingga menyebabkan “overshoot” dengan cara teknikal yang membuat rawan alami revisi,” katanya ke katadata.co.id.

Indeks harga saham kombinasi (IHSG) ditutup 0,19% sentuh level 4.870,03 pada perdagangan paling akhir September, tepatmya Rabu (30/9). Berarti dalam selama bulan ini, IHSG tertera alami pengurangan 7,03%. Pengurangan IHSG pada September tahun ini adalah yang tertinggi dibanding bulan yang serupa semenjak 2012.

Bagian yang tertera turun paling relevan selama Septmber 2020 ialah finansial sebesar 12,26%. Saham bank yang mempunyai nilai kapitalisasi besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 13,63% selama Septmber 2020, sentuh harga 27.100 per saham.

Saham bank BUMN ikut juga terkoreksi, seperti PT bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang turun 13,39% sentuh harga Rp 3.040 per saham. Lantas, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 16,64% jadi Rp 4.960 per saham serta saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 12,94% di Rp 4.440 per saham.

Ditengah-tengah revisi indeks, ada bagian saham yang ditutup di zone hijau selama Septmber 2020 ini yakni property sebesar 14,53%. Walau demikian, peningkatan ini berasal dari satu saham saja yakni PT Pollux Property Indonesia Tbk (POLL) yang selama bulan ini melesat 179,61% jadi Rp 10.150 per saham.

Sebab saham Pollux Property yang mempunyai pasar cap besar, dapat tutupi pengurangan beberapa saham lain seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) yang turun 4,52% di Rp 740 per saham atau PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) yang turun 13,24% di Rp 354 per saham.

Berdasar data RTI Infokom, investor asing banyak melepas sahamnya. Net sell asing tertera capai Rp 14,22 triliun di semua pasar.

error: Content is protected !!